Salah satu jawaban
pamungkas yang saya berikan untuk penulis pemula ketika mereka menanyakan
tentang teori menulis adalah: Jangan pikirkan teori dulu.
Lho, kok begitu?
Ya, seperti itulah!
Menulis itu sama dengan berenang, yang penting nyebur dulu ke kolam. Masalah
teori, itu belakangan. Intinya, kita harus praktek yang banyak dan sering dulu.
Bila sudah praktek dan ternyata gagal, baru tanya teorinya. (Lahh, kalau
berenang yang penting nyebur dulu, kalau gagal baru tanya teorinya,,? Kalau gagal
berenang kan tenggelam,, >_< ) Intinya coba dulu.
Bila sebelum
menulis anda pernah mendengar atau membaca teori menulis, janganlah merasa
terkungkung atau terkurung dengan teori yang pernah anda dengar dan baca itu.
Kesampingkan teori itu, langsung praktek nulis.
Bila anda mengingat
terus teori itu, anda akan merasa terpenjara dan tidak bebas untuk menulis,
akhirnya tidak jadi nulis, deh. Anda perlu ingat, untuk menulis kita harus
lepas dari kungkungan. Tuangkan dulu isi benak anda ke dalam banyak halaman,
bila mentok, barulah anda tanyakan atau baca teorinya.
Teori menulis yang banyak dituliskan di banyak buku, atau yang dianjurkan dalam setiap pelatihan dan seminar menulis, baru akan anda rasakan manfaatnya hanya jika:
Teori menulis yang banyak dituliskan di banyak buku, atau yang dianjurkan dalam setiap pelatihan dan seminar menulis, baru akan anda rasakan manfaatnya hanya jika:
§
Anda sudah mulai
menulis sepuluh, dua puluh lembar halaman.
§
Anda sudah mulai
menulis lima puluh sampai ratusan halaman.
§
Anda sudah pernah
menulis sebuah buku. Ingat: menuliskan sebuah buku, bukan menerbitkan sebuah
buku.
Ketika anda sudah
menulis yang banyak, maka anda akan menemukan banyak teori yang ajib bin ajaib
nan mendetail dalam menulis. Namun bila anda tidak pernah menulis apapun, maka
teori-teori itu tidak akan pernah berarti sedikitpun. Bila anda tidak pernah belajar
menulis buku atau
menulis artikel dengan rutin, maka teori menulis itu hanya akan menjadi sampah
yang menumpuk di otak anda dan hanya akan mengotori bukannya mencerdaskan anda.
Intinya adalah menulis
yang banyak dulu, baru lihat teori. Berlatih dulu yang banyak, baru baca teori.
Dan perbaiki tulisan anda dengan teori itu. Lakukanlah dengan konsisten dan
keyakinan bahwa anda bisa menjadi mahir menulis ketika anda rajin dan
konsisten. Ini adalah pesan yang bagus untuk penulis pemula.
Setelah anda melakukan
hal itu, setelah anda menemukan kelincahan dalam menulis. Setelah merasakan
hambatan menulis semakin berkurang, maka anda akan menjumpai tulisan anda yang
tidak pernah kunjung diterbitkan itu akhirnya terbit juga.
Untuk sampai kesana,
anda harus menulis yang banyak dulu. Tulislah yang banyak tentang apa saja.
Tidak harus sekaligus banyak. Nyicil saja. Sedikit demi sedikit, lama-lama
menjadi bukit. Itu adalah pepatah kuno yang cocok untuk zaman apapun.
Bila itu sudah anda
lakukan, barulah anda mulai merasakan perkembangan otot-otot jari tangan anda.
Otot mata, urat saraf di kepala anda akan mulai merasakan kebiasaan baru ini.
Bila anda melakukan
kebiasaan baru itu dalam waktu lama, maka anda akan merasakan manfaat yang
besar dari menulis. Dan untuk sampai kepada tingkat yang lebih mahir lagi dalam
menulis. Anda harus berusaha lebih banyak lagi dan untuk itu anda harus
bersabar mempraktekkannnya.
Sumber: http://caramenulisbuku.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar