Jam 03.00 sore nanti Aku ada
jadwal mengajar komputer. Tapi sambil menunggu sore Aku putuskan untuk main ke
taman. Di taman inilah biasanya Aku habiskan waktu senggang ku untuk menulis.
Sedang asik menulis, tiba-tiba ada seorang cewek memakai sepeda berhenti 20
meter di depan ku. Dari mukanya dia masih SMP. Mukanya tampak pucat, mungkin
karena dia kelelahan setelah bersepeda. Duduk dia di bangku dibawah pohon yang
rindang. Kepalanya tertunduk lesu. Entah apa yang dipikirkannya. Tak sedikit
pun ia memperhatikan sekitarnya. Karena iseng Aku coba pindah tempat duduk,
lima meter dari bangkunya terduduk lesu. Aku buka lagi laptop untuk lanjut
menulis. Tak sedikit pun dia menoleh ke arah ku atau ke arah mana pun. Dia
hanya menatap tanah yang dari tadi terus dia korek-korek dengan sepatunya.
Sepuluh menit berlalu, ku geser
tubuh ini mendekatinya.
“Hai,,” Sapa Aku.
Dia menoleh dan kembali
tertunduk.
“Nama ku Giyo,,” Ku ulurkan tangan
berusaha berkenalan dengannya.
Menoleh lagi dan kini ia
tersenyum pada ku. Manis, manis sekali. Tapi sayang jarang sekali ia
mengeluarkan senyumnya.
“Apa Aku mengganggu mu,,?”
Digelengkan kepalanya tanda
Tidak.
Sekarang Aku bingung harus gimana
lagi, setiap kata-kata ku hanya dia balas dengan raut wajah.
Sementara Aku masih kebingungan,
dia keluarkan sebuah buku kecil. Dipegangnya erat dan sesekali ia buka dan
menuliskan sesuatu di dalamnya.
Suasana hening, hingga ku lihat
dia meneteskan air mata. Aku terkejut, Aku bingung, apa salah ku. Menyentuhnya
pun tidak, tapi kenapa dia menangis.
“Kenpa kamu menangis,,?” Tanya ku
heran.
“Maaf yahh kalau Aku mengganggu
mu,,”
Aku rasa hadirku tak membuatnya
nyaman, kuputuskan untuk cabut dari taman ini. Lagian jam menunjukan hampir pukul
03.00, waktunya mengajar komputer.
“Emmm, Aku pergi dulu yahh,
makasih buat kenalan dan senyumnya, jangan menangis lagi,,” Aku berdiri dan
pergi megambil motor ku.
Sesekali ku lihat dari kaca
spion, dia terus melihat ku hingga Aku keluar dari taman. Dalam hati ku
bergumam, andai tidak ada jadwal mengajar pasti akan Aku temenin dia dan cari
tahu dia lebih jauh.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sepulang mengajar Aku kembali ke
taman. Jam menunjukan pukul 05.30 sore. Yahh, sudah sesore ini jelas dia sudah
tidak ada. Aku duduk di bangku tempat ia duduk tadi siang. Melirik ke kanan dan
ke kiri, taman semakin sepi. Aku berdiri beranjak mau pulang. Tapi ku lihat
sebuah buku kecil dibawah bangku. Buku yang ia pegang dari tadi. Aku mau
kembalikan tapi gak tahu harus kemana. Aku buka halaman pertama, terlulis Putri
Mutia. Setelah ku buka buka, ku temukan catatan:
“Kamu yang bawel dan banyak
bicara, maaf aku tak menghiraukan mu. Aku tak mampu menjawab kata-kata mu. Nama
ku Mutia. Aku sedih bukan karena kamu, tapi karena orang tua ku sedang ribut di
rumah. Aku pergi ke taman ini agar pikiran ku bisa lebih tenang. Aku jenuh
berada di rumah. Mendengar teriakan teriakan kasar dari orang tua ku.
Sebenarnya Aku ingin cerita banyak ke kamu, tapi Aku gak bisa. Kamu orang yang
ramah. Sekali ku mendengar suara mu, terasa nyaman ku di dekat mu. Tapi lain
kali jika Aku bertemu lagi dengan mu, Aku akan menceritakannya pada mu. Terima
kasih buat perkenalannya hari ini….. Kak Giyo.” Tersentak Aku sadar tulisan ini
buat ku. Aku janji, Aku akan kembalikan buku ini pada Mutia, sekaligus mendengarkan
cerota yang kamu janjikan pada ku.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Kring kring kring kring…”
Deringa alarm Aku. Jam 5 pagi. Pasti, dia gak pernah telat bangunin Aku.
“Makasih yahhh,,” Plaaakk, ku tekan alarm untuk memtikannya.
“Pagi, Mamm” sapa Aku ke Ibu
sambil ngoyor ke kamar mandi. Aku lakukan aktivitas seperti biasa, kerja dan
kerja. Heri ini lebih semangat dari biasanya, karena Aku punya janji untuk
mencari pemilik buku itu hari ini. Tak sabar ingin menyelesaikan kerjaan hari
ini.
Sepulang kerja, Aku langsung
pergi ke taman lagi. Tak lupa bawa laptop kesayangan. Duduk lagi Aku di tempat
kemarin. Berharap bertemu lagi dengan Mutia.
Ku tunggu hingga menjelang malam.
Mutia tak kunjung dating. Ahhh, tak mungkin ku bertemu Mutia malam hari ini.
Gumam ku dalam hati. Dalam perjalanan pulang, tak sengaja ku bertemu dengan
Mutia. Ya, aku yakin dia Mutia yang ku tunggu dari sore.
“Hai, Mutia. Ehh, ini buku kamu
kan, aku mau balikin Buku mu ini” Ku sodorkan bukunya.
Dia tersenyum sambil menyatukan
tangannya sebagai ungkapan terima kasih. Diambilnya buku itu dan berlari ia
masuk ke dalam sebuah rumah. Ini pasti rumahnya. Sepi, tak ada tanda tanda
keceriaan di rumah ini.
“Krekeettttt” Terdengar suara
pintu terbuka.
Mutia keluar dari rumahnya dan
berjalan perlahan menemui ku yang masih berdiri tegak di tep jalan depan
rumahnya. Dilambaikan tangannya kepada ku. Ku balas lambaiannya. Dia tersenyum.
“Hai” Sapa ku.
“A aa a aay” Dia balik menyapa ku
kaku. Dia tak banyak bersuara hingga dia keluarkan buku kecilnya dan dia
tuliskan “Selamat datang di rumah ku, Kak Giyo” Ku baca dan heran.
“Mutia gak bisa berbicara normal
seperti Kakak,,” Kembali dia tuliskan dalam buku dan di tunjukannya pada ku.
“Mutia Bisu,,” Ku baca terus apa
yang dia tuliskan.
“Terima kasih mau menemui Ku,,”
Kata ku membalas kata katanya.
“Sama sama, Kak,,”
Aku mulai akrab dengan Mutia, aku
mulai belajar mengerti bahasa isyarat dari Mutia. Meski kadang banyak aku salah
memahami isyaratnya.
Dia begitu aktif, ceria. Tak
seperti Mutia yang pertama ku lihat. Kami ngobrol banyak malam ini.
Membicarakan banyak hal, seperti kasih yang telah lama tak bertemu. Mulai malam
ini, aku berjanji pada diri ku sendiri akan terus membuat hari harinya bahagia.
Melengkapi harinya yang selalu sendiri. Aku sadar, selama ini dia mungkin tak
punya teman buat berbagi cerita. Kini, Aku disini, dan aku akan selalu disini
untuk mendengar mu, mendengar semua cerita mu, membuat senyum mu terus bersinar
menyinari dunia. Mutia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar